11.10.2010

Kisah tentang pohon apel



Dahulu kala, terdapatlah sebatang pohon apel yang sangat besar. Seorang anak laki-laki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel itu setiap hari. Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan buah apel sepuas-puasnya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Dan sebaliknya, pohon apel itupun sangat menyukai anak itu.

Waktupun berlalu… anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktunya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. “Marilah bermain-mainlah di sekitarku” ajak pohon apel itu. “Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain denganmu, sekarang yang kuinginkan adalah mainan yang lain, tapi aku tidak punya uang untuk membelinya” jawab remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu berkata, “Kalau begitu, petiklah buahku, lalu juallah untuk mendapatkan uang. Dengan begitu, kau dapat membeli permainan yang kau inginkan”.

Remaja itu dengan gembiranya memetik semua buah apel di pohon itu kemudian. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itupun kembali merasa sedih.

Waktu kian berlalu…Suatu hari, remaja itu kembali. Dia kini semakin dewasa. Pohon apel itupun merasa gembira. “Marilah bermain-mainlah di sekitarku” ajak pohon apel itu. “Aku tidak ada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membangun rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bisakah kau menolongku?” Tanya anak itu. “Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan buatlah rumah daripadanya” Jawab pohon apel itu. Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong semua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudian ia merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.

Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. “Marilah bermain-main di sekitarku” ajak pohon apel itu. “Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Kini aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. namun aku tidak mempunyai perahu. Bisakah kau menolongku?” tanya lelaki itu. “Aku tidak mempunyai perahu untuk kuberikan kepadamu, tetapi kau boleh memotong batangku ini untuk dijadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan gembira” kata pohon apel itu. Lelaki itu merasa amat gembira dan kemudian menebang batang pohon apel itu. Dia kemudian pergi dari situ dengangembira dan tidak kembali lagi selepas itu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Hingga suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia tak lain adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu. “Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk kuberikan kepadamu. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat perahu. Kini aku hanya memiliki tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan nada sedih. “Aku tidak butuh buahmu, aku juga tidak menginginkan dahanmu karena aku sudah tidak punya tenaga untuk memotongnya, aku tidak butuh batangmu karena aku tidak akan belayar lagi, aku hanya merasa lelah dan ingin istirahat” jawab lelaki tua itu. “Jika begitu, istirahatlah di atas perduku” kata pohon apel itu. Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu. Merekapun menangis terharu atas kegembiraan yang mereka rasakan.

anak dan orang tuaSaudara sekalian, sebenarnya pohon apel yang dimaksud dalam cerita ini tidak lain adalah kedua orang tua kita. Saat kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita beranjak dewasa, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup, memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, pendidikan dsb. Lalu kemudian kita tinggalkan mereka demi mengejar cita-cita, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita dalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apapun yang kita minta asalkan kita bahagia.

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi memang seperti itulah hakikatnya. Bahkan kita sendiripun akan mengalami hal yang sama, menjadi orang tua, lalu kemudian ditinggalkan oleh anak-anak yang sangat kita cintai.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. 17:23)

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mengasihi aku diwaktu kecil.” (QS. 17:24)
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Digg
Facebook
Yahoo
Feed

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar